Jumlah penonton film Indonesia pada tahun 2015 mencapai angka 16,2 juta. Di tahun berikutnya angka ini naik lebih dari 100 persen, yakni 37,2 juta. Jumlah tersebut terus naik, tercatat selama 2017 jumlah penonton meningkat hingga 42,7 juta. Sedangkan di tahun 2018 jumlah penonton film Indonesia berada di angka 50 juta.

 

Jumlah film yang diproduksi pun terus meningkat. Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Film Badan Perfilman Indonesia (BPI), Agus Senantusa memaparkan bahwa jumlah film yang diproduksi sepanjang tahun 2018 hampir mencapai 200 judul. Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya, yaitu 143 judul. Data ini bahkan disambut dengan rencana penambahan layar oleh jejaring distributor film, sebut saja bioskop XXI yang segera membuka 150 sampai 250 layar baru di tahun 2019 ini. Sementara, bioskop lokal maupun bioskop alternatif di beberapa daerah pun kian ramai dan jumlahnya akan terus bertambah.

 

Tren menonton film terus naik setiap tahun. Jumlah film yang diproduksi pun terus mengalami peningkatan. Pilihan genre beragam, mulai dari drama keluarga, thriller,  sampai horor. Tapi, berapa banyak film-film yang diproduksi tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam?

 

Sarah (19), mahasiswa di salah satu universitas Islam di Surabaya mengaku tidak pernah menonton film di bioskop. Dia selalu menolak setiap teman-temannya mengajak hang out ke bioskop. Menonton film lewat laptop pribadinya saja dia musti sembunyi-sembunyi. Tetapi, uniknya dia ingin belajar membuat film. “Abah melarang saya menonton film, apalagi masuk ke bioskop, tapi saya mau membuat film agar orang tua tidak lagi melarang anaknya menikmati film,” akunya.

 

Salah satu hal yang disayangkan, sebagian orang tua memilih ‘potong kompas’ dengan melarang anaknya menonton film sama sekali, bahkan harus menjauhi film tanpa memberinya pemahaman tentang film. Alih-alih memberi pengertian dan mengajak diskusi mengenai nilai dari keseluruhan cerita yang diangkat, anak justru didoktrin begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk tahu mengapa dan bagaimana harusnya bersikap terhadap sebuah film.

 

Apakah Sarah harus mengurungkan impiannya sebagai filmmaker yang berpotensi memproduksi film-film layak tonton? Dari mana anak-anak seperti Sarah dapat mengetahui bagaimana film yang baik dan buruk jika tidak diberi kesempatan menonton dan menilai film?

 

Imun, bukan steril

Tahun 2018 pernah beredar pesan berantai tentang ajakan kepada orang tua agar tidak membawa anaknya untuk menonton film antihero Deadpool 2. Karakter dari komik Marvel tersebut masuk kategori dewasa (D), artinya film tersebut hanya untuk ditonton usia di atas 17 tahun. Sebab, walaupun diperankan secara jenaka, tetapi film ini mengandung kekerasan dan kisahnya pun suram (dark comedy). Sebagai orang tua, sudah menjadi keharusan untuk tahu lebih dulu tentang apa yang membuat film layak ditonton dan tidak boleh ditonton.

Memberi pemahaman pada anak jauh lebih penting dibanding anak menjadi penurut tanpa mereka tahu mengapa harus bersikap demikian. Apalagi, saat ini untuk mendapatkan akses menonton film sangat mudah, baik dari website penyedia film maupun YouTube. Pergaulan anak pun kian luas, jika hanya mendoktrin, sampai kapan mereka mampu terus menerus mengikuti perintah orang tua dan sama sekali tidak terpengaruh oleh ajakan nonton teman-temannya?

Seperti halnya tubuh manusia, saat dibuat steril, tubuh tidak pernah mengenali benda asing maka ketika secara tidak sengaja tubuh terserang benda asing tersebut maka dengan mudah menyebabkan sakit. Sebaliknya, jika tubuh dibuat imun yang berarti kebal, maka saat benda asing masuk dia akan melakukan perlawanan. Tubuh yang imun akan mengenali mana musuh dan mana yang kawan baik dalam mendukung kesehatan.

“Tugas kita sebagai orang tua adalah membuat anak-anak menjadi imun, bukan steril. Termasuk habit dalam menonton. Artinya, jangan sampai mereka patuh tapi tidak paham alasan dasarnya. Orang tua harus lebih telaten memberi pengertian, bukan sekadar melarang. Anak-anak kita butuh tahu apa mudharat-nya film tersebut, adakah nilai kemanfaatan yang bisa didapat, mengapa pula akhirnya tidak boleh dinonton. Bukan justru membuat mereka steril dari film, yang di kemudian hari akan membuat anak-anak ini gagap dan bingung saat harus menentukan sikap terhadap setiap yang ditontonnya,” tutur Mario Irwinsyah, aktor film Indonesia yang saat ini telah berhijrah.

Kondisi seperti ini dipahami oleh Ustaz Marzuki Imron yang lebih dikenal dengan Ustaz Naruto. Sebagai alat untuk menarik para remaja dan orang dewasa untuk datang ke kajiannya, Ustaz Naruto seringkali hadir dengan atribut unik yaitu ber-cosplay ala Naruto, tokoh anime Jepang yang digemari segala usia. Bukan hanya cosplay, tapi isi ceramahnya banyak mengupas tentang pesan-pesan dalam sebuah film.

Ustaz Naruto jeli membedah nilai-nilai kebaikan yang ditawarkan dalam setiap film. “Kita ambil contoh, Naruto. Film ini mengajarkan tentang ketekunan, kesetiakawanan, dan keteguhan dalam berjuang. Hal-hal baik seperti ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupann sehari-hari, tetapi juga perlu pemahaman bahwa berkelahi itu tidak baik,” paparnya.

Bukan pembuat filmnya, tapi esensi ceritanya

Dikisahkan bahwa suatu hari Abu Hurairah diperintah oleh Rasulullah Muhammad untuk menjaga zakat fitrah. Namun, ada seseorang yang datang menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Orang itu berkata bahwa dirinya dan keluarganya sedang membutuhkan makanan, sehingga Abu Hurairah melepasnya. Keesokan paginya Rasulullah menegur Abu Hurairah dan mengatakan bahwa laki-laki itu berbohong. Tetapi, peristiwa serupa terulang kembali di malam harinya dengan alasan yang sama. Abu Hurairah pun melepasnya dengan alasan yang sama pula. Hingga akhirnya kejadian tersebut berulang sampai yang ketiga, laki-laki ini pun mengajarkan satu hal kepada Abu Hurairah agar membaca ayat kursi sebelum tidur.

“Dia mengatakan kepadaku bahwa Allah akan menjagaku selama tidur dan setan tidak akan mendekatiku sampai pagi hari,” tutur Abu Hurairah kepada Rasulullah. Rasulullah pun bersabda, “dia berkata benar, sekalipun dia adalah pendusta. Kamu tahu siapa yang menemuimu selama tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” tanya Rasul. “Tidak,” jawab Abu Hurairah singkat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).

Kisah tersebut sama seperti film, bahwa bisa jadi penutur atau pemilik modalnya bukan muslim, tetapi pesan yang disampaikan adalah kebenaran. Esensi ini yang dimanfaatkan Ustaz Naruto dalam berdakwah dan menangkap setiap pesan baik yang disampaikan dari sebuah film. Sehingga tercipta ruang diskusi dan pengembangan diri dari sebuah film yang pembuatannya pun  melalui proses riset ilmiah dalam membangun karakter dan jalan ceritanya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa film adalah pisau bermata dua yang dapat memberi manfaat jika dapat diterjemahkan dengan tepat dan akan menjadi mudharat jika dipahami dengan sesat.

Menyampaikan hikmah tanpa berceramah

 

“We are, as a species, addicted to story. Even when the body goes to sleep, the mind stays up all night, telling itself stories.” — Jonathan Gottschall, The Storytelling Animal: How Stories Make Us Human.

 

Kutipan tersebut dituturkan oleh seorang tokoh sastra Amerika. Setiap orang suka dengan storytelling. Ketika mendengar cerita yang relatable dengan kehidupan di sekitar kita, maka kadar hormon yang disebut oksitosin (rasa nyaman) akan meningkat. Pesan-pesan yang disampaikan dalam sebuah cerita dapat meningkatkan rasa percaya kita akan satu hal dan menumbuhkan rasa empati. Ketika sebuah cerita disajikan dengan baik, otak akan bereaksi seolah-olah kita yang mengalaminya sendiri. Maka, otak kita mampu membangun koneksi dan bekerja secara optimal dalam merespon satu cerita. Secara tidak langsung, otak sebagai pusat syaraf akan memprosesnya sehingga kisah yang kita nikmati dapat mempengaruhi perilaku sosial sehari-hari.

 

Begitu kuatnya potensi sebuah cerita, bahkan isi Al-quran didominasi oleh cerita.

 

Sementara film adalah salah satu pilihan media dalam bercerita, seperti hanya buku dan rekaman suara. Bedanya, film memvisualisasikan sebuah cerita dengan gambar bergerak, suara yang bisa langsung didengar, dan musik untuk membangun mood penontonnya. Film menyampaikan kesedihan tokoh utama bisa ditunjukkan dengan kepala yang sedang menunduk, menggambarkan keteguhan hati hanya dengan tatapan mata yang tajam, dan menyampaikan keseluruhan pesan tanpa harus bertutur secara lisan dari A sampai Z.

 

Berdakwah melalui film menjadi salah satu jalan yang diambil oleh Hamas Syahid, seorang penghalaf Al-quran asal Surabaya. Namanya mulai dikenal sejak memerankan karakter Mas Gagah dalam film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ tahun 2016. “Berkarya di industry film saya pilih sebagai jalan dakwah. Di sini saya ingin mengajak umat Islam di Indonesia untuk terus terbuat baik melalui film-film yang saya perankan. Semoga ini menjadi ajakan yang halus, sehingga penonton tidak merasa digurui dalam berbuat kebaikan di bumi ini,” akunya.

 

Dakwah Islam lewat film, mungkinkah?

Berawal dari sebuah kegelisahan tentang tayangan ramah anak, Mario Irwinsyah dan kawan-kawannya berhasil melahirkan sebuah karya yang sedang ramai diperbincangkan oleh orang tua dan anak-anak se-Indonesia: Nussa Rara. Dua tokoh animasi kakak beradik ini berhasil menjadi jawaban atas kebutuhan tontonan islami untuk anak-anak yang hingga saat ini nyaris tidak ada. Nussa, digambarkan sebagai anak disable yang mengajari arti ikhlas kepada Rara, adiknya. Sementara karakter Rara adalah gadis kecil periang yang selalu suka menolong temannya, tetapi tidak sabaran setiap menghadapi persoalan.

Menggandeng studio animasi The Little Giantz yang malang melingtang di industri film dunia, sejak dirilis episode pertamanya tanggal 20 November 2018 ini, ada bulan Februari 2019 channel YouTube Nussa Rara telah mencapai 2 juta subscriber. Tentu kabar baik tersebut menjadi harapan munculnya film-film Islami lainnya.

Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Melihat besarnya jumlah produksi film baik komersil maupun non-komersil, semakin meningkatnya angka penonton, kira-kira kapan film Islam di Indonesia dapat diperhitungkan dunia? Semoga umat Islam mampu dan ikut melakukan perubahan yang lebih baik melalui dunia perfilman. Wallahua’lam.